selamat datang SAHABAT SEMUA DIBLOG HEALTHY SCIENCE Semoga Bermanfaat ....

Sabtu, 13 Februari 2010

Sirkulasi janin

SIRKULASI JANIN

Embrio berkembang dengan cepat setelah terjadi implantasi. Garis primitive neural (neural primitive streak) berkembang pada minggu kedua setelah fertilisasi; pada minggu ke tiga jantung janin berkembang dan bersambung dengan satu system vascular primitive; pada minggu keempat sudah terbentuk usus; dan pada miggu keenam suatu sinus urrogenital telah terbentuk.
Pada minggu ke tujuh setelah fertilisasi, kebanyakan organ telah terbentuk dan embrio tersebut menjadi janin.

NUTRISI JANIN
Pertumbuhan janin ditentukan oleh banyak factor, baik genetik maupun lingkungan. Dari faktor lingkungan perfusi plasenta dan fungsi yang adekuat sangat penting. Status gizi ibu bukan merupakan faktor yang membatasi kecuali pada kasus-kasus kelaparan yang ekstrim, meskipun kekurangan gizi mungkin disertai dengan anemia dan dapat menyebabkan berat bayi lahir rendah.
Janin, yang terbungkus oleh kantong pelindung amnion dan relatif tanpa bobot, memanfaatkan banyak suplai energi untuk pertumbuhan. Energi ini terutama berasal dari glukosa. Hanya sejumlah kecil lemak, sebagai asam lemak bebas, melintasi plasenta hingga kehamilan trimester ketiga. Setiap kelebihan karbohidrat setelah pertumbuhan dan kebutuhan metabolik terpenuhi diubah menjadi lemak; konfersi ini meningkat menjelang genap bulan.
Dari umur kehamilan ke-30, hati janin telah semakin efisien dan mengubah glukosa menjadi glikogen, yang disimpan didalam otot jantung, otot skeletal, dan plasenta janin. Apabila terjadi hipoksia, janin dapat memperoleh energi dari simpanan ini (kecuali otot skeletal) untuk menjalankan glikolisis anaerob.
Asam lemak bebas dibentuk dan disimpan didalam jaringan adiposa coklat dan putih. Lemak coklat disimpan di sekeliling leher janin dan dibelakang skapula, sternum, dan sekeliling ginjal. Lemak ini dimetabolisir untuk menyediakan energi untuk mempertahankan suhu tubuh bayi setelah lahir. Jaringan adiposa putih membentuk lapisan subkutan pada tubuh janin cukup bulan, tetapi pada bayi kurang bulan lapisan ini tipis. Lapisan ini bekerja sebagai insulator dan penyimpan lemak.
Simpanan lemak pada jainin seberat 800 gr (untuk kehamilan 24-26 minggu) hanya satu persen dari berat badannya; pada minggu ke 35 mencapai 15 persen berat badan janin.
Karena plasenta membersikan bilirubin dan produk metabolik lain dari darah yang memerlukan aktifitas transferase, hati janin (dan neonatus) kekurangan transferase tertentu. Akibatnya adalah, jika defisiensi ini tidak ditanggulangi pada masa neonatus dini, bilirubin akan menumpuk didalam darah neonatus, dengan akibat penyakit hemolitik pada neonatus.
Asam amino melintasi plasenta dengan transfer aktif dan diubah menjadi protein. Sintesis protein lebih besar dari pada pemecahan protein, dan janin menggunakan beberapa macam asam amino dari pemecahan ini untuk sintesis kembali.
Janin juga mensintesis suatu protein spesifik, alfafetoprotein (AFP) didalam hati. Kadar AFP mencapai puncak antara umur kehamilan ke 12 dan 16; setelah itu menurun hingga genap bulan. Protein ini di sekresi dalam urine janin dan ditelan oleh janin untuk di pecah didalam uusunya. Jika janin tidak dapat menelan, seperti pada anensefali, kadar AFP didalam cairan amnion meningkat.

SISTEM KARDIOVASKULAR
Karakteristik sirkulasi darah janin yaitu tekanan sistemik yang rendah dan tekanan paru yang tinggi serta adanya pirau dari kanan ke kiri melalui foramen ovale dan duktus arteriosus.
Dalam keadaan normal, 45% darah dari plasenta melalui v. Umbilikalis masuk ke parenkim hati, kemudian melalui vena hepatika ke vena kava inferior dan sisanya sebanyak 55% melalui duktus venosus langsung ke vena kava inferior di atrium kanan kemudian ke atrium kiri melalui foramen ovale, selanjutnya ke ventrikel kiri, aorta ascendens dan sirkulasi koroner.
Hal yang paling penting pada sirkulasi darah paru janin yaitu fungsi pertukaran gas dilakukan oleh plasenta,sedangka paru melakukan metabolisme berupa pertumbuhan paru dan memproduksi cairan yang mengandung komposisi khusus yaitu surfaktan dan semua cairan yang harus dibuang sebelum pertukaran gas dilakukan oleh paru.
Harus diperhatikan bahwa lebih dari 50% curah jantung melewati arteri umbilikalis untuk memberikan perfusi ke palsenta. Curah jantung meningkat sampai genap bulan; pada saat itu lazim didapati 200 ml/kg/menit. Denyut jantung berkisar antara 110 dan 150 kali/kg/menit untuk mempertahankan curah jantung ini. Tekanan darah janin juga meningkat sepanjang kehamilan dan setelah umur kehamilan 36 minggu tekanan sistolik rata-rata adalah 75 mmHg dan distolik 55mmHg.
Jumlah sel darah merah, tingkat hemoglobin dan packed cell volume meningkat sesuai dengan umur kehamilan. Kebanyakan eritrosit mengandung banyak hemoglobin fetus (HbF). Pada kehamilan 15 minggu semua sel mengandung HbF; pada minggu ke 36, 70% eritrosit mengandung HbF, dan 30% hemoglobin dewasa, namun terdapat variasi yang luas. Sel-sel yang mengandung HbF dapat mengabsorpsi lebih banyak oksigen pada pO2 tertentu. Sel-sel ini lebih tahan terhadap hemolisis tetapi kurang tahan trhadap trauma dibandingkan dengan hemoglobin dewasa.

Darah janin ke plasenta melalui aa. Umbilicales dan disini dimuat dengan bahan makanan berasal dari darah ibu. Darah ini masuk kedalam badan janin melalui vena umbilicalis yang bercabang dua setelah memasuki dinding perut janin.
Cabang yang kecil bersatu dengan vena porta, darahnya beredar dalam hati dan kemudian diangkut melalui vena hepatica de dalam vena cava inferior.
Cabang satunya ialah : ductius venosus arantii yang masuk langsung kedalam vena cava inferior.
Dengan demikian vena cava inferior setelah dimasuki darah vena hepatica dan darah ductus venosus arantii mengandung darah “bersih”, tapi dicampuri ”darah kotor” dari anggota bawah janin.
Darah dari vena cava inferior setelah masuk kedalam serambi kanan sebagian masuk ke dalam serambi kiri melalui foramen ovale, dan sebagian mengalir ke dalam bilik kanan bersama-sama dengan darah vena cava superior yang membawa darah dari kepala dan anggota atas.
Darah dari bilik kanan masuk ke arteri pulmonalis, tetapi sebelum sampai ke paru-paru sebagain dialirkan ke aorta melalui ductus arteriosus botalii.
Sebagain kecil pergi ke paru-paru dan melalui vena pulmonalis masuk keserambi kiri dan bersama dengan darah dari vena cava inferior masuk kedalam bilik kiri dan terus ke aorta.
Darah yang ke paru-paru bukan untuk pertukaran gas tetapi untuk memberi makanan kepada paru-paru yang sedang tumbuh.
Darah aorta disebarkan ke alat-alat badan, tetapi darah banyak menuju ke aa. Hypogastric (cabang dari arteri iliaca communis) lalu ke aa. Umbilicales dan selanjutnya ke plasenta.
Jadi darah yang beredar dalam janin selalu bersifat ”darah campuran” dan isi vena cava inferior lebih bersih dari isi aorta.
Setelah anak lahir, maka karena anak bernafas terjadilah penurunan tekanan dalam arteri pulmonalis, sehingga banyak darah mengalir ke paru-paru.
Ductus arteriosus botalii tertutup 1-2 menit setelah anak bernafas.
Dengan terguntingnya tali pusar, maka darah dalam vena cava inferior berkurang dan degan demikian juga tekanan dalam serambi kanan berkurang, sebaliknya tekanan dalam serambi kiri bertambah karena darah yang datang dari paru-paru bertambah, akibatnya ialah penutupan foramen ovale.
Sisa ductus arteriosus botalii disebut ligamentum arteriosum , dan dari ductus venosus rantii menjadi ligamentum teres hepatis dan dari aa. Umbilicales menjadi ligamentum vesico umbilicaie laterale kiri dan kanan
Telah dikatakan bahwa oksigen janin rendah dibandingkan dengan orang dewasa. Untuk mengimbangi keadaan ini peredaran darah janin lebih cepat, kadar Hb janin tinggi (sampai 18 gr%) dan erythrocyt nya banyak (5,5 juta per mm3).
Hb janin sedikit berbeda dari Hb orang dewasa. Hb, janin terutama terbuat dalam hati sedangkan Hb orang dewasa pada sumsum merah. Hb janin lebih mudah mengambil dan menyerahkan oksigen dari pada orang dewasa. Hb janin baru diganti seluruhnya oleh Hb biasa pada umur 4 bulan atau lebih.
Selama janin dalam rahim ternyata ia sudah melakukan pergerakan pernafasan. Pergerakan ini rupanya perlu untuk perkembangan pembuluh darah paru-paru. Jadi pernafasan setelah anak lahir, sebetulnya hanya lanjutan gerakan pernafasan intrauterin.

PARU-PARU JANIN
Pada embrio dini, paru-paru tersusun atas saluran-saluran epitel yang dikelilingi oleh mesoderm. Pada perkembangan lebih lanjut, epitelium menjadi terlipat-lipat dan glanular membentuk alveoli primitif. Pada umur kehamilan ke 22, telah berkembang suatu sistem kapiler dan paru-paru mampu mengadakan pertukaran gas. Pada genap bulan, sudah berkembang dan mengalami pergantian tiga atau empat generasi alveoli. Epiteliumnya, yang berbentuk kuboidal, menjdi datar pada hirupan pertama. Pada minggu ke 24, sairan memenuhi alveoli dan salurannya. Pada stadium ini, paru-paru mulai mensekresi surface-active lipoprotein yang mempermudah ekspansi paru pada waktu lahir dan membantu paru yang berisi udara untuk mempertahankan volume normalnya. Namun hingga minggu ke 35 jumlah surfaktan mungkin tidak mencukupi pada beberapa bayi untuk mengembangkan paru-parunya setealah lahir, maka timbul penyakit membran hialin.
Janin mengadakan gerakan pernafasan (bernafas) pada awal kehamilan. Pada kehamilan dini, gerakannya masih bersifat sporadik, tetapi pada kehamilan pertengahan menjadi teratur dan frekuensinya meningkat sesuai dengan umur kehamilan. Aktivitas pernafasan mengakibatkan inspirasi cairan amnion ke dalam bronkiolus tetapi tidak lebih jauh lagi, karena cairan yang disekresi kedalam alveoli mempunyai tekanan lebih tinggi. Episode-episode hipoksia pada kehamilan lahir atau sewaktu lahir mungkin merangasang upaya pernafasan dan menyebabkan cairan amnion, yang sering terkontaminasi mekonium, terhirup lebih dalam ke dalam paru.

TRAKTUS GASTROINTESTINAL
In utero, saluran usus relatif tenang. Sejumlah cairan amnion yang tertelan, dan bahan seluler yang terkandung didalamnya masuk kedalam usus dan selanjutnya diurus oleh enzim dan bakteri sehingga menghasilkan mekonium. Mekonium tetap berada didalam usus jika tidak ada episode hipoksia yang menyebabkan kontraksi usus sehingga mekonium dikeluarkan dan bercampur dengan cairan amnion.

SISTEM GINJAL JANIN
Ginjal janin berkembang dari metanefros dan gromeruli baru terus dibentuk hingga umur kehamilan 36. urin disekresi dan dikeluarkan ke dalam cairan amnion mulai dari minggu ke 16, atau mungkin lebih awal. Kecepatan alirannya meningkat ketika menjelang genap bulan.

SISTEM IMUN JAININ
Pada kehamilan dini, antibodi yang dihasilkan janin jauh sangat kurang untuk merespon invasi antigen ibu atau invasi bakteri. Dari minggu ke 20 (mungkin lwbih awal), respon imun janin terhadap suatu antigen mulai meningkat. Respon janin dibantu oleh pemindahan molekul antibodi dari ibu (asalkan ukurannya tidak terlalu besar) ke janin sehingga memberikan perlindungan pasif yang menetap sampai beberapa minggu setelah lahir.

SISTEM OTOT JANIN
Karena hampir tidak berbobot didalam kapsul amnion, janin bergerak-gerak sajak dari awal kehamilan. Ketika kehamilan semakin lanjut, pergerakan janin menjadi semakin kuat dan semakun sering. Aktivitas ini diikuti masa-masa istirahat, seakan-akan janin sedang tidur. Pergerakan janin memperkuat otot-ototnya dan seringnya pergerakan ini memberikan petunjuk mengenai kesehatan janin.

AKTIVITAS ENDOKRIN JANIN
Janin ikut terlibat dalam produksi estrogen. Disamping itu, janin juga menghasilkan TSH sejak sekitar minggu kehamilan ke 14, yang mengakibatkan pelepasan T3 dan T4. jumlah T3 kecil tetapi reverse T3 disekresi dalam jumlah relatif banyak. Segera setelah lahir menjadi lonjakan pelepsan TSH, sehingga menyebabkan lonjakan T3 dan T4 dan penurunan reverse T3.

Diketik Ulang Oleh supendi Ardiansyah STIkes..

Daftar pustaka

Liewellyn-Jones, Derek. 2002. Dasar-Dasar Obstetri Dan Ginekologi Edisi 6. Jakarta : Hipokrates.

Obstetri Fisiologi. Bagian Obstetri Dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Univeritas Padjadjaran Bandung.

Sukandi, H. Abdurachman Dr., dr, Sp. A (K)., dkk. 2002. Diktat Kuliah Perinatologi. Bandung, Bagian / SMF Ilmu Kesehatan Anak FKUP/RSHS.

Tidak ada komentar: