selamat datang SAHABAT SEMUA DIBLOG HEALTHY SCIENCE Semoga Bermanfaat ....

Sabtu, 20 Februari 2010

SAP Asma

FORMAT
SATUAN ACARA PENYULUHAN


Masalah : Kurangnya informasi mengenai penyakit asma
Pokok Bahasan : Penyakit Saluran Pernafasan
Sub Pokok Bahasan : Asma
Sasaran :
Waktu :
Pertemuan Ke :
Tanggal :
Tempat :
I. Tujuan Instruksional Umum
Setelah diberikan penyuluhan, sasaran mampu memahami penyakit asma.

II. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah diberikan penjelasan selama 15 menit diharapkan sasaran dapat :
1. Menyebutkan pengertian asma dengan benar tanpa melihat catatan/ leaf let
2. Menyebutkan tipe-tipe asma dengan benar tanpa melihat catatan/ leaf let
3. Menyebutkan pencetus asma dengan benar tanpa melihat catatan/ leaf let
4. Menyebutkan tanda dan gejala asma dengan benar tanpa melihat catatan/ leaf let
5. Menyebutkan pencegahan asma dengan benar tanpa melihat catatan/ leaf let
6. Menyebutkan penanganan asma dengan benar tanpa melihat catatan/ leaf let

III. Pokok Materi
1. Pengertian asma
2. Tipe-tipe asma
3. Pencetus asma
4. Tanda dan gejala asma
5. Pencegahan asma
6. Penanganan asma
IV. Kegiatan Belajar Mengajar
- Metode : ceramah dan diskusi
1. Langkah – langkah kegiatan :
A. Kegiatan Pra Pembelajaran
1. Mempersiapkan materi, media dan tempat
2. Kontrak waktu
B. Membuka Pembelajaran
1. Memberi salam
2. Perkenalan
3. Menjelaskan pokok bahasan
4. Menjelaskan tujuan
5. Apersepsi
C. Kegiatan inti
1. Penyuluh menyampaikan materi
2. Sasaran menyimak materi
3. Sasaran mengajukan pertanyaan
4. Penyuluh menjawab pertanyaan
5. Penyuluh menyimpulkan jawaban
D. Penutup
1. Evaluasi
2. Penyuluh dan sasaran menyimpulkan materi
3. Memberi salam

V. Media Dan Sumber
• Media : Leaflet
• Sumber :
1. Penanganan Asma Dalam Perawatan Primer , Antony Crockett, Alih Bahasa: dr. Erlan, Jakarta: Hipokrates. 1997
2. Patofisiologi Edisi 4 Jilid 2, Sylvia A. Price, Jakarta: EGC. 1999
VI. Evaluasi
• Prosedur : Post test
• Jenis tes : Pertanyaan secara lisan
• Butir soal : 5 soal
1. Sebutkan Pengertian asma !
2. Sebutkan Tipe-tipe asma !
3. Sebutkan Pencetus asma !
4. Sebutkan Tanda dan gejala asma !
5. Sebutkan Pencegahan asma !
6. Sebutkan Penanganan asma !

VII. Lampiran Materi dan Media

Lampiran Materi

ASMA

A. PENGERTIAN ASMA
Asma adalah suatu penyakit dari sistem pernafasan yang meliputi peradangan dari jalan nafas dan gejala-gejala bronchospasme ( kaku broncuus ; cabang paru-paru ) yang dapat pulih kembali.

B. TIPE – TIPE ASMA
1. Asma Ekstrinsik (Alergik)
 Merupakan respon terhadap allergen: reaksi hipersensitif berkaitan denngan genetic (turunan)
 Alergen: debu rumah, bulu binatang, spora jamur, serbuk tepung, perubahan cuaca.
2. Asma Intrinsik (Non Alergik)
 Bereaksi terhadap pencetus yang tidak diketahui atau tiodak khusus, missal infeksi saluran pernafasan dan olah raga
 Lebih menyerang pada usia kurang dari 5 tahun dan lebih dari 35 tahun.

C. PENCETUS ASMA
 Bau yang menyengat (cat, sprey kimia, parfum dan asap rokok)
 Polusi udara
 Keadaan emosi
 Perubahan cuaca yang tiba-tiba

D. TANDA DAN GEJALA ASMA
- Pada dewasa: batuk, sesak, pernafasan pendek, mengi, kadang disertai dahak hijau, jernih atau kuning
- Pada anak-anak : lesu atau kurang sehat, batuk yang tetap dan tidak sembuh terutama malam hari, lebih dari 10-14 hari terutama diikuti flu.


E. PENCEGAHAN ASMA
 Kontrol Lingkungan: menghindari alergen
 Tingkatkan kesehatan optimal
- makanan yang baik
- istirahat cukup, tidur, dan olah raga yang teratur
- minum cukup
- hindari merokok
 Latihan nafas
F. PENANGANAN ASMA
 Kenali kemunduran asma (meningkatnya batuk, mengi dan sesak nafas di malam hari, menurunnya kemampuan berolah raga) : tingkatkan pengobatan dan pengawasan
 Jika asma terus memburuk obat harus terus diminum sesuai petunjuk dokter
 Jika obat sudah diminum, asma tetap tidak membaik segera cari bantuan ke petugas kesehatan









SAP Kurangnya Sadar Kesehatan

FORMAT SAP
(Satuan Acara Penyuluhan)






Pokok Bahasan : Kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat
Sub Pokok Bahasan : Pemberantasan penyakit menular
Sasaran :
Waktu :
Pertemuan Ke :
Tanggal :
Tempat :
I. Tujuan Instruksional Umum
Setelah diberi penyuluhan, sasaran mampu memahami penyakit Diare .


II. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah diberi penyuluhan selama 15 menit diharapkan sasaran dapat :
1. Menyebutkan pengertian Diare dengan baik dan benar
2. Menyebutkan 3 dari 8 penyebab Diare
3. Menyebutkan tanda dan gejala Diare
4. Menjelaskan penatalaksanaan Diare dirumah
5. Menjelaskan cara pencegahan penyakit Diare
6. Mendemonstrasikan cara pembuatan larutan oralit


III. Materi Penyuluhan
1. Pengertian Diare
2. Penyebab Diare
3. Tanda dan gejala penyakit Diare
4. Penatalaksanaan Diare dirumah
5. Pencegahan penyakit Diare
6. cara pembuatan larutan oralit




IV. Kegiatan Belajar Mengajar
- Metode : ceramah, Tanya jawab, demonstrasi
- Langkah – langkah kegiatan
A. Kegiatan Pra Pembelajaran
1. Mempersiapkan materi, media dan tempat
2. Memberi salam
3. Perkenalan
4. Kontrak waktu
B. Membuka Pembelajaran
1. Menjelaskan tujuan
2. Menjelaskan pokok bahasan
3. Apersepsi
C. Kegiatan inti
1. Sasaran menyimak materi
2. Sasaran mengajukan pertanyaan
3. sasaran mendemonstrasikan
4. Sasaran menyimpulkan
D. Penutup
1. Melakukan post test
2. Menyimpulkan materi
3. Memberi salam


V. Media dan sumber
• Media : Leaflet dan poster
• Sumber : Direktorat Jendral PPM PLP 1994. Buku kader Kesehatan Lingkungan. Jakarta : EGC.
Direktorat Jendral PPM PLP 1996. Buku Ajar Diare Untuk Pendidikan Keperawatan. Jakarta : Departemen kesehatan RI.
WHO. 1992. Diare Akut Edisi 2. Jakarta : EGC.
WHO alih bahasa Dr Erlan. 1999. Penatalaksanaann dan pencegahan Diare. Jakarta : EGC










VI. Evaluasi
• Prosedur : Post tes
• Jenis tes : Lisan
• Butir soal
1. Sebutkan pengertian Diare
2. Sebutkan 3 dari 8 penyebab Diare
3. Sebutkan tanda dan gejala Diare
4. Sebutkan cara mencegah Diare
5. Jelaskan cara penatalaksanaan Diare di rumah
6. demonstrasikan cara membuat larutan oralit


VIII. Lampiran Materi
LAMPIRAN MATERI


PENGERTIAN DIARE
Diare adalah berak encer atau cair sebanyak 3 kali atau lebih dalam 24 jam .


PENYEBAB DIARE
Diare dapat disebabkan oleh :
 Minum air yang tidak dimasak : karena kuman penyebab diare masih terdapat dlam air yang belum dimasak
 Makan jajanan kurang bersih : karena kuman masuk melalui makanan yang kotor
 Makan dengan tangan yang kotor : karena kuman masuk melalui tangan yang kotor
 Berak disembarang temapt : karena kotoran manusia yang dibuang sembarangan mencemari lingkungan
 Menggunakan air kotor untuk keperluan sehari-hari
 Makanan tidak ditutup sehingga sehingga dihinggapi lalat dan terkena debu dan kotoran
 Ikan, jamur atau singkong dan makanan – makanan yang mengandung racun
 Makanan dan minuman yang basi atau mengandung zat pewarna yang berlebihan


TANDA DAN GEJALA DIARE
 Berak encer lebih dari 3 kali dalam 24 jam
 Badan lemah an lesu
 Muntah- muntah
 Menurunnya nafsu makan


PENCEGAHAN DIARE
 Berikan hanya ASI selama 4-6 bulan pertama dan teruskan menyusui paling kurang selama tahun pertama
 Berikan makanan penyapih bergizi yang bersih pada 4-6 bulan
 Berikan makanan yang baru dimasak dengan baik serta air bersih
 Semua anggota keluarga mencuci tangannya dengan sabun sebelum makan, sebelum menyiapkan makanan, dan setelah berak
 Secepatnya membuang tinja anak kecil ke kaskus
PENATALAKSANAAN DIARE DIRUMAH
1. Begitu diare dimulai berikan ankak cairan lebih banyak dari biasanya. Berikan :
 Larutan oralit, cairan dari bahan mkanan seperti sup, air beras, dan yoghurt.
 Anak kuarng dari 6 bulan dan hanya diberi ASI, berikan hanya larutan oralit atau air putih masak sebagai tambahan ASI
 Anak kurang dari 2 tahun beriakn kira- kira 50 – 100 ml ( ¼ - ½ cangkir besar )cairan setiap habis diare
 Anak umur 2- 10 tahun berikan cairan 100-200 ml (½- 1 cangkir besar )
 Anak lebih dari 10 tahun dan orang dewasa harus minum sebanyak yang mereka inginkan
2. Berikan minuman yang banyak setiap 3 atau 4 jam, 5-7 klai perhari
 ASi makanan terbaik untuk bayi
 6 bulan atau lebih berikan sereal atau campuran padi-padian, kacang-kacangan, asyuran berwarna kuning, wortel dan kentang manis kuning , daging, ikan
 Sari buah segar dan pisang
 Sayuran hijau tua
 Setelah daire berhenti, berikan makanan satu makana tiap selama seminggu
3. Bawa anak kepetugas kesehatan jika terdapat tanda-tanda
 Tidak membaik dalam 3 hari
 Mengeluarkan banyak tinja
 Muntah berulang-ulang
 Sangat haus
 Mata cekung
 Makan dan minus sedikit ( sudah makan dan minum )
 Demam
 Ada darah dalam tinja
 Tampak tidak membaik


CARA MEMBUAT LARUTAN ORALIT
1. Sediakan satu gelas air yang sudah dimasak / teh encer ( 200 cc )
2. masukan 1 bungkus oralit kedalam 200 cc air yang tadi
3. aduk sampai larut
Cara memberikannya :
 Untuk anak > dari 2 tahun beriakn 1 sendok the setipa 1-2 menit.
 Untuk anak yang lebih besar berikan minum sedikit- sedikit
 Bila anak muntah-muntah tunggu 10 menit, kemudian berikan larutan perlahan lahan ( 1 sendok setiap 2-3 menit )








































FORMAT SAP
(Satuan Acara Penyuluhan)






Pokok Bahasan : Kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat
Sub Pokok Bahasan : Pemberantasan penyakit menular
Sasaran :
Waktu :
Pertemuan Ke :
Tanggal :
Tempat :
I. Tujuan Instruksional Umum
Setelah diberi penyuluhan, sasaran mampu memahami penyakit Diare .


II. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah diberi penyuluhan selama 15 menit diharapkan sasaran dapat :
1. Menyebutkan pengertian Diare dengan baik dan benar
2. Menyebutkan 3 dari 8 penyebab Diare
3. Menyebutkan tanda dan gejala Diare
4. Menjelaskan penatalaksanaan Diare dirumah
5. Menjelaskan cara pencegahan penyakit Diare
6. Mendemonstrasikan cara pembuatan larutan oralit


III. Materi Penyuluhan
1. Pengertian Diare
2. Penyebab Diare
3. Tanda dan gejala penyakit Diare
4. Penatalaksanaan Diare dirumah
5. Pencegahan penyakit Diare
6. cara pembuatan larutan oralit




IV. Kegiatan Belajar Mengajar
- Metode : ceramah, Tanya jawab, demonstrasi
- Langkah – langkah kegiatan
A. Kegiatan Pra Pembelajaran
1. Mempersiapkan materi, media dan tempat
2. Memberi salam
3. Perkenalan
4. Kontrak waktu
B. Membuka Pembelajaran
1. Menjelaskan tujuan
2. Menjelaskan pokok bahasan
3. Apersepsi
C. Kegiatan inti
1. Sasaran menyimak materi
2. Sasaran mengajukan pertanyaan
3. sasaran mendemonstrasikan
4. Sasaran menyimpulkan
D. Penutup
1. Melakukan post test
2. Menyimpulkan materi
3. Memberi salam


V. Media dan sumber
• Media : Leaflet dan poster
• Sumber : Direktorat Jendral PPM PLP 1994. Buku kader Kesehatan Lingkungan. Jakarta : EGC.
Direktorat Jendral PPM PLP 1996. Buku Ajar Diare Untuk Pendidikan Keperawatan. Jakarta : Departemen kesehatan RI.
WHO. 1992. Diare Akut Edisi 2. Jakarta : EGC.
WHO alih bahasa Dr Erlan. 1999. Penatalaksanaann dan pencegahan Diare. Jakarta : EGC










VI. Evaluasi
• Prosedur : Post tes
• Jenis tes : Lisan
• Butir soal
1. Sebutkan pengertian Diare
2. Sebutkan 3 dari 8 penyebab Diare
3. Sebutkan tanda dan gejala Diare
4. Sebutkan cara mencegah Diare
5. Jelaskan cara penatalaksanaan Diare di rumah
6. demonstrasikan cara membuat larutan oralit


VIII. Lampiran Materi
LAMPIRAN MATERI


PENGERTIAN DIARE
Diare adalah berak encer atau cair sebanyak 3 kali atau lebih dalam 24 jam .


PENYEBAB DIARE
Diare dapat disebabkan oleh :
 Minum air yang tidak dimasak : karena kuman penyebab diare masih terdapat dlam air yang belum dimasak
 Makan jajanan kurang bersih : karena kuman masuk melalui makanan yang kotor
 Makan dengan tangan yang kotor : karena kuman masuk melalui tangan yang kotor
 Berak disembarang temapt : karena kotoran manusia yang dibuang sembarangan mencemari lingkungan
 Menggunakan air kotor untuk keperluan sehari-hari
 Makanan tidak ditutup sehingga sehingga dihinggapi lalat dan terkena debu dan kotoran
 Ikan, jamur atau singkong dan makanan – makanan yang mengandung racun
 Makanan dan minuman yang basi atau mengandung zat pewarna yang berlebihan


TANDA DAN GEJALA DIARE
 Berak encer lebih dari 3 kali dalam 24 jam
 Badan lemah an lesu
 Muntah- muntah
 Menurunnya nafsu makan


PENCEGAHAN DIARE
 Berikan hanya ASI selama 4-6 bulan pertama dan teruskan menyusui paling kurang selama tahun pertama
 Berikan makanan penyapih bergizi yang bersih pada 4-6 bulan
 Berikan makanan yang baru dimasak dengan baik serta air bersih
 Semua anggota keluarga mencuci tangannya dengan sabun sebelum makan, sebelum menyiapkan makanan, dan setelah berak
 Secepatnya membuang tinja anak kecil ke kaskus
PENATALAKSANAAN DIARE DIRUMAH
1. Begitu diare dimulai berikan ankak cairan lebih banyak dari biasanya. Berikan :
 Larutan oralit, cairan dari bahan mkanan seperti sup, air beras, dan yoghurt.
 Anak kuarng dari 6 bulan dan hanya diberi ASI, berikan hanya larutan oralit atau air putih masak sebagai tambahan ASI
 Anak kurang dari 2 tahun beriakn kira- kira 50 – 100 ml ( ¼ - ½ cangkir besar )cairan setiap habis diare
 Anak umur 2- 10 tahun berikan cairan 100-200 ml (½- 1 cangkir besar )
 Anak lebih dari 10 tahun dan orang dewasa harus minum sebanyak yang mereka inginkan
2. Berikan minuman yang banyak setiap 3 atau 4 jam, 5-7 klai perhari
 ASi makanan terbaik untuk bayi
 6 bulan atau lebih berikan sereal atau campuran padi-padian, kacang-kacangan, asyuran berwarna kuning, wortel dan kentang manis kuning , daging, ikan
 Sari buah segar dan pisang
 Sayuran hijau tua
 Setelah daire berhenti, berikan makanan satu makana tiap selama seminggu
3. Bawa anak kepetugas kesehatan jika terdapat tanda-tanda
 Tidak membaik dalam 3 hari
 Mengeluarkan banyak tinja
 Muntah berulang-ulang
 Sangat haus
 Mata cekung
 Makan dan minus sedikit ( sudah makan dan minum )
 Demam
 Ada darah dalam tinja
 Tampak tidak membaik


CARA MEMBUAT LARUTAN ORALIT
1. Sediakan satu gelas air yang sudah dimasak / teh encer ( 200 cc )
2. masukan 1 bungkus oralit kedalam 200 cc air yang tadi
3. aduk sampai larut
Cara memberikannya :
 Untuk anak > dari 2 tahun beriakn 1 sendok the setipa 1-2 menit.
 Untuk anak yang lebih besar berikan minum sedikit- sedikit
 Bila anak muntah-muntah tunggu 10 menit, kemudian berikan larutan perlahan lahan ( 1 sendok setiap 2-3 menit )







































Sabtu, 13 Februari 2010

Neonatus

PENGERTIAN NEONATUS
Neonatus adalah masa bulan pertama kehidupan, disepakati waktunya mulai dari 0-28 hari. Selama tahapan ini, fungsi fisik bayi baru lahir kebanyakan reflektif, dan stabilisasi system organ utama adalah tugas tubuh yang utama. Prilaku sangat mempengaruhi interaksi, antara bayi baru lahir dan lingkungan serta pengaruh. misalnya rata-rata anak usia dua minggu tersenyum secara spontan dan mampu mengenali wajah ibunya sehingga melambungkan perasaan cinta ibu dengan itu ibu segera memeluk bayinya.

CIRI-CIRI NEONATUS
ciri-ciri dari neonatus adalah sebagai berikut :
1. Menghisap merupakan refleks terpenting
2. Masih tidur terus
3. Bila ditelungkupkan tampak seperti merayap menggunakan kakinya kedepan
4. Refleks menghentak
5. Sering tampak terkejut dan menangis dalam tidurnya
6. Refleks menggenggam
7. Belum mengetahui siapa dirinya dan siapa anda

PERKEMBANGAN FISIK NEONATUS
Rata-rata berat bayi baru lahir 3400 gram, panjang 50 cm dan memiliki lingkar kepala 35 cm. sampai 10 % berat lahir hilang dalam beberapa hari pertama, dan akan naik kembali pada minggu ke dua kehidupan. selama bulan pertama meningkat rata-rata berat badan 120 sampai 240 gram per minggu, tinggi badan 0,6 -2,5 cm, dan 2 cm dalam lingkar kepala.
denyut jantung menurun dari denyut jantung janin 130 sampai 160 kali permenit turun menjadi 120 sampai 140 kali permenit. systole dan diastole dalam keadaan durasi lebih pendek, intensitas lebih besar, dan bunyi lebih tinggi rata-rata tekanan darah 74/46 mmHg. rata-rata waktu pernafasan adalah 30 sampai 50 kali permenit. temperature aksila berada dalam rentang antara 36’ sampai 37,5’c dan secara umum menjadi stabil dalam 24 jam setelah lahir.
Karakteristik Fisik Neonatus
karakteristik yang normal termasuk tetap adanya lanugo (rambut yang halus, menutupi hampir seluruh tubuh) pada kulit bagian belakang. signosis pada tangan dan kaki, abdomen yang lembut dan menonjol. warna kulit berfariasi menurut ras dan warisan genetika dan berubah selama masa bayi Molding , atau tulang kepala saling bertumpuk dan akan menyesuaikan kembali dalam beberapa minggu. membentuk kembali yang lebih bulat. garis yang terpisah sutura, dan fontanel, biasanya teraba pada saat kelahiran.
refleks normal termasuk berkedip dalam berespon terhadap cahaya terang dan gerakan terkejut dalam berespon terhadap suara rebut dan tiba-tiba.
Karakteristik Prilaku Neonatus
karakteristik prilaku yang normal meliputi periode menghisap, menangis, tidur dan beraktifitas. Bayi baru lahir normalnya melihat wajah pengasuh, secara reflektif, tersenyum dan beresponterhadap stimulus sensoris, khususnya wajah pengasuh utama , suara dan sentuhan.
jam pertama kehidupan neonatus tanpa pemberian obat utamanya dihabiskan dalam keadaan diam waspada. dengan mata terbuka lebar dan aktifitas menghisap kuat. setelah itu bayi akan tidur terus selam 2 sampai 3 hari berikutnya untuk pulih dari proses kelahiran setelah itu periode tidur berfariasi dari 20 menir sampai 6 jam dengan perbandingan siang malam sempit.

PERKEMBANGAN KONGNITIF NEONATUS
Perkembangan kongnitif yang awal mulai dengan prilaku bawaan, refleks dan fungsi sensoris. misalnya neonatus belajar untuk menoleh kearah putting susu pada saat baru lahir anak-anak berfokus pada benda berjarak kira-kira 8-10 inci dari wajah mereka dan dapat melihat benda. kemampuan sensori ini memberikan neonatus untuk mengeluarkan stimulus lebih dari pada hanya menerima stimulus . contoh stimulus sensori adalah orang tua berbicara dengan bayinya dan memegang mereka untuk melihat wajah mereka.
untuk neonatus menangis berarti komunikasi. beberapa bayi menangis karena popoknya basah atau mereka merasa lapar.

PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL
Interaksi selama perawatan rutin memperbesar atau memperkecil proses kedekatan, jika orang tua atau anak-anak mengalami komplikasi kesehatan setelah lahir, hubungan dapat terganggu. Isyarat prilaku bayi lemah atau tidak ada. Misalnya bayi yang lahir dengan gangguan jantung mungkin lebih mudah merasa lemah selama menyusui. mereka mungkin istirahat lebih sering setelah beberapa isapan yang kuat dan tertidur setelah mendapat 30cc sampai 45cc. bayi mungkin bangun setelah 1,5 jam , menangis karena merasa lapar kembali. ibu tidak memahami bahwa tangisan tersebut adalah perintah secara fisiologis untuk rangkaian dari suatu kejadian, keduanya baik ibu dan bayi memperoleh penurunan kesenangan dari pengalaman menyisui. Dalam kasus ini, bagaimanapun juga hubungan tidak meningkat dan mungkin berkurang kecuali tindakan keperawatan memutuskan rangkaian kejadian itu.

RINGKASAN PERKEMBANGAN NEONATUS MENURUT AHLI TEORI PENTAHAPAN
1. Teori Psikoseksual Freud
Oral-Sensori (lahir sampai 12-18 bulan) (neonatus dan bayi)
 Ciri Tahapan
Aktifitas melibatkan mulut seperti menghisap, menggigit dan mengunyah merupakan sumber utama kenikmatan.
 Tambahan Teori
Anak yang terhalang kegiatan menghisap mungkin berusaha untuk memuaskan kebutuhan ini di kemudian hari melalui aktifitas seperti mengunyah permen karet, merokok dan makan yang berlebih.
2. Teori Psikisosial Erickson
Percaya Vs Tidak Percaya (lahir sampai 1 tahun) (neonatus dan bayi)
bentuk : mengambil dan mendapatkan
sifat baik : pengharapan
 Ciri Tahapan
pemenuhan kepuasan dari pengasuh tentang kebutuhan dasar bayi untuk makan dan menghisap , rasa hangat dan nyaman , cinta dan rasa aman dalam prilaku yang konsisten dan sensitive, menghasilkan kepercayaan.
 Tambahan Teori
pada saat kebutuhan dasar bayi tidak terpenuhi atau tidak terpenuhi secara adekuat , bayi menjadi curiga, penuh rasa takut, dan tidak percaya, hal ini ditandai dengan prilaku makan , tidur dan eliminasi yang buruk
3. Teori Perkembangan Kongnitif Piaget
Sensori Motor (lahir sampai 2 tahun)
 Ciri Tahapan
Anak belajar mengenai dunia melalui aktifitas sensori dan motori
 Tambahan Teori
anak secara lambat mengembangkan konsep bahwa orang dan benda merupakan hal yang permanent, walaupun mereka tidak lagi terlihat.
Aktivitas Refleks (lahir sampai satu bulan)
 Ciri Tahapan
anak melatih refleks saat lahir dan meningkatkan beberapa control refleks tersebut.
 Tambahan Teori
memodifikasi refleks menjadi lebih efisien . menghisap merupakan yang lebih efektif dan selektif.
4. Teori Perkembangan Moral Kohlberg
Tingkat Premoral (lahir sampai 9 tahun)

 Ciri Tahapan
terdapat sedikit kewaspadaan mengenai apa yang dimaksud dengan prilaku moral yang bisa di terima secara social. control di dapatkan dari luar
 Tambahan Teori
anak menyerah pada kekuatan dan kepemilikan. hidup dinilai untuk jumlah dan kekuatan dari kepemilikan.
Orientasi Hukuman dan Kepatuhan (lahir sampai 6 tahun)
 Ciri Tahapan
peraturan dari orang lain diikuti untuk menghindari hukuman
 Tambahan teori
anak menggabungkan label dari baik dan buruk, benar dan salah dalam prilaku dalam bentuk konsekuensi dari tindakan-tindakan.

SEKILAS TENTANG PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN
1. Pengertian Pertumbuhan Dan Perkembangan
Perkembangan adalah aspek progesif adaptasi terhadap lingkungan yang yang bersifat kualitatif. contoh peningkatan aktifitas fungsional penguasaan terhadap beberapa keterampilan yang lebih kecil.
Pertumbuhan fisik merupakan hal yang kuantitati, atau dapat diukur, aspek peningkatan ukuran fisik individu sebagai hasil peningkatan dalam jumlah sel.
2. Tahap Pertumbuhan Dan Perkembangan
Pertumbuhan dan perkembangan manusia merupakan hal yang berjalan terus dan berliku-liku , proses kompleks yang sering di bagi ke dalam tahap yang diatur sesuai kelompok umur.
3. Factor Utama Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Dan Perkembangan
Mahluk manusia adalah system kompleks dan terbuka yang dipengaruhi .

Diketik Ulang Oleh Supendi Ardiansyah STIKes..
DAFTAR PUSTAKA
Potter & Perry.2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses, dan Prsktik; Vol 1, terjemahan Yasmin Asih…[et al.]. Jakarta : EGC

Sirkulasi janin

SIRKULASI JANIN

Embrio berkembang dengan cepat setelah terjadi implantasi. Garis primitive neural (neural primitive streak) berkembang pada minggu kedua setelah fertilisasi; pada minggu ke tiga jantung janin berkembang dan bersambung dengan satu system vascular primitive; pada minggu keempat sudah terbentuk usus; dan pada miggu keenam suatu sinus urrogenital telah terbentuk.
Pada minggu ke tujuh setelah fertilisasi, kebanyakan organ telah terbentuk dan embrio tersebut menjadi janin.

NUTRISI JANIN
Pertumbuhan janin ditentukan oleh banyak factor, baik genetik maupun lingkungan. Dari faktor lingkungan perfusi plasenta dan fungsi yang adekuat sangat penting. Status gizi ibu bukan merupakan faktor yang membatasi kecuali pada kasus-kasus kelaparan yang ekstrim, meskipun kekurangan gizi mungkin disertai dengan anemia dan dapat menyebabkan berat bayi lahir rendah.
Janin, yang terbungkus oleh kantong pelindung amnion dan relatif tanpa bobot, memanfaatkan banyak suplai energi untuk pertumbuhan. Energi ini terutama berasal dari glukosa. Hanya sejumlah kecil lemak, sebagai asam lemak bebas, melintasi plasenta hingga kehamilan trimester ketiga. Setiap kelebihan karbohidrat setelah pertumbuhan dan kebutuhan metabolik terpenuhi diubah menjadi lemak; konfersi ini meningkat menjelang genap bulan.
Dari umur kehamilan ke-30, hati janin telah semakin efisien dan mengubah glukosa menjadi glikogen, yang disimpan didalam otot jantung, otot skeletal, dan plasenta janin. Apabila terjadi hipoksia, janin dapat memperoleh energi dari simpanan ini (kecuali otot skeletal) untuk menjalankan glikolisis anaerob.
Asam lemak bebas dibentuk dan disimpan didalam jaringan adiposa coklat dan putih. Lemak coklat disimpan di sekeliling leher janin dan dibelakang skapula, sternum, dan sekeliling ginjal. Lemak ini dimetabolisir untuk menyediakan energi untuk mempertahankan suhu tubuh bayi setelah lahir. Jaringan adiposa putih membentuk lapisan subkutan pada tubuh janin cukup bulan, tetapi pada bayi kurang bulan lapisan ini tipis. Lapisan ini bekerja sebagai insulator dan penyimpan lemak.
Simpanan lemak pada jainin seberat 800 gr (untuk kehamilan 24-26 minggu) hanya satu persen dari berat badannya; pada minggu ke 35 mencapai 15 persen berat badan janin.
Karena plasenta membersikan bilirubin dan produk metabolik lain dari darah yang memerlukan aktifitas transferase, hati janin (dan neonatus) kekurangan transferase tertentu. Akibatnya adalah, jika defisiensi ini tidak ditanggulangi pada masa neonatus dini, bilirubin akan menumpuk didalam darah neonatus, dengan akibat penyakit hemolitik pada neonatus.
Asam amino melintasi plasenta dengan transfer aktif dan diubah menjadi protein. Sintesis protein lebih besar dari pada pemecahan protein, dan janin menggunakan beberapa macam asam amino dari pemecahan ini untuk sintesis kembali.
Janin juga mensintesis suatu protein spesifik, alfafetoprotein (AFP) didalam hati. Kadar AFP mencapai puncak antara umur kehamilan ke 12 dan 16; setelah itu menurun hingga genap bulan. Protein ini di sekresi dalam urine janin dan ditelan oleh janin untuk di pecah didalam uusunya. Jika janin tidak dapat menelan, seperti pada anensefali, kadar AFP didalam cairan amnion meningkat.

SISTEM KARDIOVASKULAR
Karakteristik sirkulasi darah janin yaitu tekanan sistemik yang rendah dan tekanan paru yang tinggi serta adanya pirau dari kanan ke kiri melalui foramen ovale dan duktus arteriosus.
Dalam keadaan normal, 45% darah dari plasenta melalui v. Umbilikalis masuk ke parenkim hati, kemudian melalui vena hepatika ke vena kava inferior dan sisanya sebanyak 55% melalui duktus venosus langsung ke vena kava inferior di atrium kanan kemudian ke atrium kiri melalui foramen ovale, selanjutnya ke ventrikel kiri, aorta ascendens dan sirkulasi koroner.
Hal yang paling penting pada sirkulasi darah paru janin yaitu fungsi pertukaran gas dilakukan oleh plasenta,sedangka paru melakukan metabolisme berupa pertumbuhan paru dan memproduksi cairan yang mengandung komposisi khusus yaitu surfaktan dan semua cairan yang harus dibuang sebelum pertukaran gas dilakukan oleh paru.
Harus diperhatikan bahwa lebih dari 50% curah jantung melewati arteri umbilikalis untuk memberikan perfusi ke palsenta. Curah jantung meningkat sampai genap bulan; pada saat itu lazim didapati 200 ml/kg/menit. Denyut jantung berkisar antara 110 dan 150 kali/kg/menit untuk mempertahankan curah jantung ini. Tekanan darah janin juga meningkat sepanjang kehamilan dan setelah umur kehamilan 36 minggu tekanan sistolik rata-rata adalah 75 mmHg dan distolik 55mmHg.
Jumlah sel darah merah, tingkat hemoglobin dan packed cell volume meningkat sesuai dengan umur kehamilan. Kebanyakan eritrosit mengandung banyak hemoglobin fetus (HbF). Pada kehamilan 15 minggu semua sel mengandung HbF; pada minggu ke 36, 70% eritrosit mengandung HbF, dan 30% hemoglobin dewasa, namun terdapat variasi yang luas. Sel-sel yang mengandung HbF dapat mengabsorpsi lebih banyak oksigen pada pO2 tertentu. Sel-sel ini lebih tahan terhadap hemolisis tetapi kurang tahan trhadap trauma dibandingkan dengan hemoglobin dewasa.

Darah janin ke plasenta melalui aa. Umbilicales dan disini dimuat dengan bahan makanan berasal dari darah ibu. Darah ini masuk kedalam badan janin melalui vena umbilicalis yang bercabang dua setelah memasuki dinding perut janin.
Cabang yang kecil bersatu dengan vena porta, darahnya beredar dalam hati dan kemudian diangkut melalui vena hepatica de dalam vena cava inferior.
Cabang satunya ialah : ductius venosus arantii yang masuk langsung kedalam vena cava inferior.
Dengan demikian vena cava inferior setelah dimasuki darah vena hepatica dan darah ductus venosus arantii mengandung darah “bersih”, tapi dicampuri ”darah kotor” dari anggota bawah janin.
Darah dari vena cava inferior setelah masuk kedalam serambi kanan sebagian masuk ke dalam serambi kiri melalui foramen ovale, dan sebagian mengalir ke dalam bilik kanan bersama-sama dengan darah vena cava superior yang membawa darah dari kepala dan anggota atas.
Darah dari bilik kanan masuk ke arteri pulmonalis, tetapi sebelum sampai ke paru-paru sebagain dialirkan ke aorta melalui ductus arteriosus botalii.
Sebagain kecil pergi ke paru-paru dan melalui vena pulmonalis masuk keserambi kiri dan bersama dengan darah dari vena cava inferior masuk kedalam bilik kiri dan terus ke aorta.
Darah yang ke paru-paru bukan untuk pertukaran gas tetapi untuk memberi makanan kepada paru-paru yang sedang tumbuh.
Darah aorta disebarkan ke alat-alat badan, tetapi darah banyak menuju ke aa. Hypogastric (cabang dari arteri iliaca communis) lalu ke aa. Umbilicales dan selanjutnya ke plasenta.
Jadi darah yang beredar dalam janin selalu bersifat ”darah campuran” dan isi vena cava inferior lebih bersih dari isi aorta.
Setelah anak lahir, maka karena anak bernafas terjadilah penurunan tekanan dalam arteri pulmonalis, sehingga banyak darah mengalir ke paru-paru.
Ductus arteriosus botalii tertutup 1-2 menit setelah anak bernafas.
Dengan terguntingnya tali pusar, maka darah dalam vena cava inferior berkurang dan degan demikian juga tekanan dalam serambi kanan berkurang, sebaliknya tekanan dalam serambi kiri bertambah karena darah yang datang dari paru-paru bertambah, akibatnya ialah penutupan foramen ovale.
Sisa ductus arteriosus botalii disebut ligamentum arteriosum , dan dari ductus venosus rantii menjadi ligamentum teres hepatis dan dari aa. Umbilicales menjadi ligamentum vesico umbilicaie laterale kiri dan kanan
Telah dikatakan bahwa oksigen janin rendah dibandingkan dengan orang dewasa. Untuk mengimbangi keadaan ini peredaran darah janin lebih cepat, kadar Hb janin tinggi (sampai 18 gr%) dan erythrocyt nya banyak (5,5 juta per mm3).
Hb janin sedikit berbeda dari Hb orang dewasa. Hb, janin terutama terbuat dalam hati sedangkan Hb orang dewasa pada sumsum merah. Hb janin lebih mudah mengambil dan menyerahkan oksigen dari pada orang dewasa. Hb janin baru diganti seluruhnya oleh Hb biasa pada umur 4 bulan atau lebih.
Selama janin dalam rahim ternyata ia sudah melakukan pergerakan pernafasan. Pergerakan ini rupanya perlu untuk perkembangan pembuluh darah paru-paru. Jadi pernafasan setelah anak lahir, sebetulnya hanya lanjutan gerakan pernafasan intrauterin.

PARU-PARU JANIN
Pada embrio dini, paru-paru tersusun atas saluran-saluran epitel yang dikelilingi oleh mesoderm. Pada perkembangan lebih lanjut, epitelium menjadi terlipat-lipat dan glanular membentuk alveoli primitif. Pada umur kehamilan ke 22, telah berkembang suatu sistem kapiler dan paru-paru mampu mengadakan pertukaran gas. Pada genap bulan, sudah berkembang dan mengalami pergantian tiga atau empat generasi alveoli. Epiteliumnya, yang berbentuk kuboidal, menjdi datar pada hirupan pertama. Pada minggu ke 24, sairan memenuhi alveoli dan salurannya. Pada stadium ini, paru-paru mulai mensekresi surface-active lipoprotein yang mempermudah ekspansi paru pada waktu lahir dan membantu paru yang berisi udara untuk mempertahankan volume normalnya. Namun hingga minggu ke 35 jumlah surfaktan mungkin tidak mencukupi pada beberapa bayi untuk mengembangkan paru-parunya setealah lahir, maka timbul penyakit membran hialin.
Janin mengadakan gerakan pernafasan (bernafas) pada awal kehamilan. Pada kehamilan dini, gerakannya masih bersifat sporadik, tetapi pada kehamilan pertengahan menjadi teratur dan frekuensinya meningkat sesuai dengan umur kehamilan. Aktivitas pernafasan mengakibatkan inspirasi cairan amnion ke dalam bronkiolus tetapi tidak lebih jauh lagi, karena cairan yang disekresi kedalam alveoli mempunyai tekanan lebih tinggi. Episode-episode hipoksia pada kehamilan lahir atau sewaktu lahir mungkin merangasang upaya pernafasan dan menyebabkan cairan amnion, yang sering terkontaminasi mekonium, terhirup lebih dalam ke dalam paru.

TRAKTUS GASTROINTESTINAL
In utero, saluran usus relatif tenang. Sejumlah cairan amnion yang tertelan, dan bahan seluler yang terkandung didalamnya masuk kedalam usus dan selanjutnya diurus oleh enzim dan bakteri sehingga menghasilkan mekonium. Mekonium tetap berada didalam usus jika tidak ada episode hipoksia yang menyebabkan kontraksi usus sehingga mekonium dikeluarkan dan bercampur dengan cairan amnion.

SISTEM GINJAL JANIN
Ginjal janin berkembang dari metanefros dan gromeruli baru terus dibentuk hingga umur kehamilan 36. urin disekresi dan dikeluarkan ke dalam cairan amnion mulai dari minggu ke 16, atau mungkin lebih awal. Kecepatan alirannya meningkat ketika menjelang genap bulan.

SISTEM IMUN JAININ
Pada kehamilan dini, antibodi yang dihasilkan janin jauh sangat kurang untuk merespon invasi antigen ibu atau invasi bakteri. Dari minggu ke 20 (mungkin lwbih awal), respon imun janin terhadap suatu antigen mulai meningkat. Respon janin dibantu oleh pemindahan molekul antibodi dari ibu (asalkan ukurannya tidak terlalu besar) ke janin sehingga memberikan perlindungan pasif yang menetap sampai beberapa minggu setelah lahir.

SISTEM OTOT JANIN
Karena hampir tidak berbobot didalam kapsul amnion, janin bergerak-gerak sajak dari awal kehamilan. Ketika kehamilan semakin lanjut, pergerakan janin menjadi semakin kuat dan semakun sering. Aktivitas ini diikuti masa-masa istirahat, seakan-akan janin sedang tidur. Pergerakan janin memperkuat otot-ototnya dan seringnya pergerakan ini memberikan petunjuk mengenai kesehatan janin.

AKTIVITAS ENDOKRIN JANIN
Janin ikut terlibat dalam produksi estrogen. Disamping itu, janin juga menghasilkan TSH sejak sekitar minggu kehamilan ke 14, yang mengakibatkan pelepasan T3 dan T4. jumlah T3 kecil tetapi reverse T3 disekresi dalam jumlah relatif banyak. Segera setelah lahir menjadi lonjakan pelepsan TSH, sehingga menyebabkan lonjakan T3 dan T4 dan penurunan reverse T3.

Diketik Ulang Oleh supendi Ardiansyah STIkes..

Daftar pustaka

Liewellyn-Jones, Derek. 2002. Dasar-Dasar Obstetri Dan Ginekologi Edisi 6. Jakarta : Hipokrates.

Obstetri Fisiologi. Bagian Obstetri Dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Univeritas Padjadjaran Bandung.

Sukandi, H. Abdurachman Dr., dr, Sp. A (K)., dkk. 2002. Diktat Kuliah Perinatologi. Bandung, Bagian / SMF Ilmu Kesehatan Anak FKUP/RSHS.

stresss...

STRESS

Stress adalah realitas kehidupan setiap hari yang tidak dapat di hindari. stress disebabkan oleh perubahan yang memerlukan penyesuaian. sering dianggap kejadian atau perubahan negative yang dapat menimbulkan stress misalnya : cedera, sakit, kematian orang yang dicintai. padahal segi positif juga dapat menimbulkan stress seperti naik pangkat, perkawinan. pengalaman stress dapat berasal dari tiga sumber, sumber yang Pertama adalah lingkungan diri dan tubuh serta pikiran. lingkungan mengirimkan stimulus secara terus menerus selama manusia hidup yang memerlukan penyesuaian. sumber Kedua stress merupakan kondisi Fisikologi tubuh. pertumbuhan yang cepat pada remaja, menopause pada wanita, proses menua, penyakit, kecelakaan, pemunduran kekuatan otot karena kurang latihan atau gerak, nutrisi yang buruk yang semuanya dapat membebani tubuh. sumber Ketiga adalah pikiran. otak mengartikan dan menterjemahkan perubahan yang kompleks pada lingkungan dan tubuh , kemudian menetapkan respon . menurut penelitian Ricard Lazarus (Davis, esheiman dan Mckay, 1988) mengatakan bahwa jika individu diadakan pada situasi maka pertama individu menanyakan dirinya apa yang terjadi (kondisi) dan mengapa terjadi (penyebab). individu yang stress sering memutuskan situasi ini berbahaya, sukar atau menyakitkan.
stress adalah gejala situasi dimana tuntutan non-spesifik mengharuskan seorang individu untuk berespon atau melakukan tindakan (Selye 1976). stress dapat memberi stimulus dalam hal ini, suatu stress adalah positif dan bahkan diperlukan. namun demikian, terlalu banyak stress dapat menimbulkan suatu penyesuaian yang buruk, penyakit fisik, dan ketidakmampuan untuk mengatasi atau koping terhadap masalah. Stimuli yang mengawali atau mencetuskan perubahan di sebut Stresor. Stresor secara umum dapat di klasifikasikan sebagai Internal atau Eksternal. Stresor Internal berasal dari dalam diri seseorang. dan Stresor Eksternal berasal dari luar diri seseorang.

Beberapa Definisi Stress
1. stress adalah respon tubuh yang sifatnya non-spesifik terhadap setiap tuntutan beban atasnya.
2. stress adalah gangguan pada tubuh dan pikiran yang disebabkan oleh perubahan dan tuntutan kehidupan.
3. stress adalah suatu kondisi dinamik dalam mana seseorang individu dikonfrontasikan dengan suatu peluang , kendala dan tuntutan yang dikaitkan dengan apa yang sangat diinginkannya dan yang hasilnya di persepsikan sebagai tidak pasti dan penting.
4. stress adalah suatu kondisi yang di sebabkan oleh suatu transaksi antara individu dengan lingkungan yang menimbulkan persepsi jarak antara tuntutan yang berasal dari situasi dan sumber daya system biologis, psikologis, dan social dari seseorang.

setiap individu selalu terpapar oleh stimulus atau stressor yang dapat menimbulkan perubahan atau masalah (stress) adapun sumber stresornya dapat berupa :
1. lingkungan
a. aspek fisik ruangan yaitu : Pasilitas tempat tidur, pasilitas kamar mandi, pasilitas makan.
b. aspek psiko-sosial yaitu : suara, sikap, sikap tim kesehatan keterlibatan klien dan keluarga, hubungan klien dengan lingkungan jam kunjungan, telekomunokasi dan informasi.
c. spiritual yaitu tenaga pelayanan keagamaan kesempatan melakukan kegiatan keagamaan pasilitas yang tersedia.
2. diri sendiri
a. perubahan psikologis yang tampak melalui tanda dan gejala.
b. proses pemeriksaan
c. proses perawatan dan tindakan
3. pikiran
pikiran klien yang negative penilaian saat ini maupun masa yang akan datang mempunyai pengaruh yang lebih berat misalnya takut akibat operasi, ragu-ragu melakukan sesuatu, takut kehilangan bagian tubuh, tak tahu apa yang terjadi.

Beberapa peneliti pada abad ini telah menghasilkan beberapa perbedaan konsep tentang stress. tiga dari konsep berikut ini adalah:
1. Stress Sebagai Respon Biologis
Pada tahun 1956 Hans Selye mempublikasikan tentang penelitiannya mengenai respons fisikologis dalam suatu system biologi terhadap perubahan yang tidak diinginkan. sejak pertama publikasinya, ia telah merepisi ulang devinisi tentang stress menjadi “…keadaan dimanifestasikan oleh sindrom khusus yang terdiri dari semua perubahan yang penyebabnya tidak spesifik dalam system biologi….” (Selye 1976). sindrom ini telah dikenal sebagai “Fight Or Fliight syndrome” . dalam tahun 1936 , Selye merumuskan stress sebagai general adaptation syndrome (GAS) atau sindrom penyesuaian umum. selye membagi reaksi umum tubuh terhadap stress dalam tiga tahap yaitu : Reaksi Waspada, Reaksi Melawan, dan Reaksi Kelelahan.
2. Stress Sebagai Suatu Peristiwa Lingkungan
Konsep kedua mendevinisikan stress sebagai “Sesuatu” atau “Peristiwa” yang memicu respons fisiologis dan psikologis. peristiwa ini adalah salah satu yang menimbulkan perubahan dalam pola hidup individu, yang memerlukan penyesuaian gaya hidup , dan menguras kemampuan seseorang.
Holmes dan Rahe (1967) mengembangkan suatu metode dalam mengorelasikan pengaruh perubahan hidup denagn penyakit.
3. Stress Sebagai Transaksi Antara Individu Dan Lingkungan
Definisi stress menitik beratkan pada hubungan antara individu dengan lingkungan. karakteristik pribadi yang sama alaminya dengan peristiwa lingkunagn perlu dipertimbangkan.(Lazarus dan Folkman, 1984) . denagn kata lain untuk mempresiksi stress psikologis sebagai suatu reaksi, karakteristik orang tersebut dalam berkaitan dengan lingkungan juga harus dipertimbangkan.
stress sebagai proses yang meliputi Stresof dan strain denganmenambahkan dimensi hubungan antara individu dan lingkungan. interaksi antara manusia dan lingkungan yang saling mempengaruhi disebut sebagai hubungan transaksional. stress bukan hanya stimulus atau sebuah respons saja, tetapi juga suatu proses ketika seseorang adalah perantara (agen) yang aktif yang dapat mempengaruhi stressor melalui strategi prilaku, kongnitif dan emosional.
Faktor Predisposisi Stress
factor predisposisi ini sangat berperan dalam menentukan apakah suatu respon adaptif atau maladaptive. jenis factor predisposisi adalah pengaruh genetic, pengalaman masa lalu, dan kondisi saat ini.
pengaruh genetic adalah keadaan kehidupan seseorang yang diperoleh dari keturunan.
pengalaman masa lalu adalah kejadian-kejadian yang menghasilkan suatu pola pembelajaran yang dapat mempengaruhi respons penyesuaian individu.
kondisi saat ini meliputi factor kerentanan yang mempengaruhi kesiapan fisik, psikologis dan sumber-sumber social individu untuk menghadapi tuntutan menyesuaikan diri (Murphy dan moriaty , 1976)

Proses Terjadinya Stress Secara Fisiologis
(Dadang Hawari, 2002)


ADAPTASI

Adaptasi sebagai suatu bentuk respon yang sehat terhadap stress telah ditegaskan sebagai suatu perbaikan homeostatis pada system lingkungan internal. dalam hal ini termasuk juga respon pada proses penstabilan biologis internal dan pemeliharaan psikologis. dalam hal jati diri dan harga diri. Roy (1976) mendefinisikan respon yang adaptif sebagai suatu tingkah laku yang memelihara integritas individu. adaptasi dipandang sebagai suatu yang positif dan ada korelasi dengan respon yang sehat. ketika tingkah laku mengganggu integritas individu, hal ini dianggap meladaptif . respon yang meladaptif oleh individu dianggap sebagai hal yang negative atau hal yang tidak sehat.
Adaptasi merupakan hasil upaya dari koping (cara penyelesaian masalah , beradaptasi berarti mendapatkan persepsi, prilaku dan lingkungan yang berubah sehingga tercapai keseimbangan). adaptasi dapat dicapai melalui berbagai aspek :
1. Adaptasi psikologis adalah respon terhadap kebutuhan dan usaha yang berhasil. misalnya, meningkatkan kekuatan otot denagn latihan yang lama.
2. Adaptasi psikososial termasuk sikap dan prilaku. misalnya, strategi koping, pola hidup, keyakinan

karakteristik respon yang adaptif adalah :
1. semua respon yang adaptif selalu mempertimbangkan keseimbangan
2. adaptasi adalah totalitas respon dari tubuh manusia artinya respon bio-psiko-sosio dan spiritual
3. adaptasi memerlukan waktu
4. kemampuan adaptasi berbeda pada tiap orang
5. respon adaptif mungkin melelahkan dan mungkin tidak adekuat karena itu efisiensi dan bantuan diperlukan.

Adaptasi Fisikologis terhadap stress adalah kemampuan tubuh untuk mempertahankan keadaan relative seimbang. kemampuan adaptif ini adalah bentuk dinamik dari ekuilibrium lingkungan internal tubuh. lingkungan internal secara konstan berubah, dan mekanisme adaptif tubuh secara kontinu berfungsi untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan ini dan untuk mempertahankan ekuilibrium atau homeostatis.

Diketik Ulang Oleh Supendi ardiansyah STIKes..
Daftar pustaka:
Kliat, Budi Anna. 1998. PENATALAKSANA STRESS. Jakarta : EGC
Sulistiawati, S.kp, M.Kes , DKK. 2005. Konsep dasa keperawatan kesehatan jiwa.
Jakarta :EGC
Potter & Perry.2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses, dan Prsktik; Vol 1, terjemahan Yasmin Asih…[et al.]. Jakarta : EGC

Jumat, 12 Februari 2010

kekuatan

rasa ini begitu besar untuk dirimu..............rasanya tak kuat lagi aku menopang semua ini... kenapa dirimu jadikan diriku begini, apakah ini balsan dirimu kepaa diriku..???
bisakah diriku bangun dan berdiri?
apakah aku bisa melanjutkan kehidupan diriku??
berat rasanya diri ini........................... bila semua akan pergi dariku

ohhh ibu ohh ayah kenapa semua ini harus terjadi  pada diriku..............

Kamis, 11 Februari 2010

Tentang Hidup

Hidup yang kita jalani terkadang membuat kita suka, sedih, kesal, benci dan lain sebagainya. Berikut ini adalah selingan-selingan dalah hidup yang mungkin dapat Anda jadikan pedoman bagi hidup Anda.
Jangan tertarik kepada seseorang karena parasnya, sebab keelokan paras dapat menyesatkan. Jangan pula tertarik kepada kekayaannya, karena kekayaan dapat musnah. Tertariklah kepada seseorang yang dapat membuatmu tersenyum, karena hanya senyum yang dapat membuat hari-hari yang gelap menjadi cerah. Semoga kamu menemukan orang seperti itu.
Ada saat-saat dalam hidup ketika kamu sangat merindukan seseorang, sehingga ingin hati menjemputnya dari alam mimpi dan memeluknya dalam alam nyata. Semoga kamu memimpikan orang seperti itu.
Bermimpilah tentang apa yang ingin kamu impikan, pergilah ke tempat-tempat kamu ingin pergi, jadilah seperti yang kamu inginkan, karena kamu hanya memiliki satu kehidupan dan satu kesempatan untuk melakukan hal-hal yang ingin kamu lakukan. Semoga kamu mendapatkan kebahagiaan yang cukup untuk membuatmu baik hati, cobaan yang cukup untuk membuatmu kuat, kesedihan yang cukup untuk membuatmu manusiawi, pengharapan yang cukup untuk membuatmu bahagia dan uang yang cukup untuk membeli hadiah-hadiah.
Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain dibukakan. Tetapi acapkali kita terpaku terlalu lama pada pintu yang tertutup sehingga tidak melihat pintu lain yang dibukakan bagi kita.
Sahabat terbaik adalah dia yang dapat duduk berayun-ayun di beranda bersamamu, tanpa mengucapkan sepatah katapun, dan kemudian kamu meninggalkannya dengan perasaan telah bercakap-cakap lama dengannya.
Sungguh benar bahwa kita tidak tahu apa yang kita milik sampai kita kehilangannya, tetapi sungguh benar pula bahwa kita tidak tahu apa yang belum pernah kita miliki sampai kita mendapatkannya.
Pandanglah segala sesuatu dari kacamata orang lain. Apabila hal itu menyakitkan hatimu, sangat mungkin hal itu menyakitkan hati orang itu pula.
Kata-kata yang diucapkan sembarangan dapat menyulut perselisihan. Kata-kata yang kejam dapat menghancurkan suatu kehidupan. Kata-kata yang diucapkan pada tempatnya dapat meredakan ketegangan. Kata-kata yang penuh cinta dapat menyembuhkan dan memberkahi.
Awal dari cinta adalah membiarkan orang yang kita cinta menjadi dirinya sendiri, dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kita inginkan. Jika tidak, kita hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kita temukan di dalam dia. Orang-orang yang paling berbahagia tidak selalu memiliki hal-hal terbaik, mereka hanya berusaha menjadikan yang terbaik dari setiap hal yang hadir dalam hidupnya. Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dengan beberapa orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterima kasih atas karunia itu.
Hanya diperlukan waktu semenit untuk menaksir seseorang, sejam untuk menyukai seseorang dan sehari untuk mencintai seseorang tetapi diperlukan waktu seumur hidup untuk melupakan seseorang. Kebahagiaan tersedia bagi mereka yang menangis, mereka yang disakiti hatinya, mereka yang mencari dan mereka yang mencoba. Karena hanya mereka itulah yang menghargai pentingnya orang-orang yang pernah hadir dalam hidup mereka. Cinta adalah jika kamu kehilangan rasa, gairah, romantika dan masih tetap peduli padanya. Kemudian hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu dan mendapati pada akhirnya bahwa tidak demikian adanya dan kamu harus melepaskannya. Cinta dimulai dengan sebuah senyuman, bertumbuh dengan sebuah ciuman dan berakhir dengan tetesan air mata.( Ya allah jauhkanlah semua itu dari diriku…)
Cinta datang kepada mereka yang masih berharap sekalipun pernah dikecewakan, kepada mereka yang masih percaya sekalipun pernah dikhianati, kepada mereka yang masih mencintai sekalipun pernah disakiti hatinya. Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi yang lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan tidak pernah memiliki keberanian untuk mengutarakan cintamu kepadanya.
Masa depan yang cerah selalu tergantung kepada masa lalu yang dilupakan, kamu tidak dapat hidup terus dengan baik jika kamu tidak melupakan kegagalan dan sakit hati di masa lalu.Jangan pernah mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba, jangan pernah menyerah jika kamu masih merasa sanggup jangan pernah mengatakan kamu tidak mencintainya lagi jika kamu masih tidak dapat melupakannya. Memberikan seluruh cintamu kepada seseorang bukanlah jaminan dia akan membalas cintamu! Jangan mengharapkan balasan cinta, tunggulah sampai cinta berkembang di hatinya, tetapi jika tidak, berbahagialah karena cinta tumbuh di hatimu.
Ada hal-hal yang sangat ingin kamu dengar tetapi tidak akan pernah kamu dengar dari orang yang kamu harapkan untuk mengatakannya. Namun demikian janganlah menulikan telinga untuk mendengar dari orang yang mengatakannya dengan sepenuh hati. Waktu kamu lahir, kamu menangis dan orang-orang di sekelilingmu tersenyum – jalanilah hidupmu sehingga pada waktu kamu meninggal, kamu tersenyum dan orang-orang di sekelilingmu menangis.

Budaya Populer Pengaruhi Pola Pikir Remaja soal Seks


Pada akhirnya remaja mengakui bahwa orangtua mereka berpengaruh dalam membentuk pemikiran mereka soal seks. Sikap orangtua berpengaruh bagi mereka terutama dalam penentuan sikap sang remaja. Pengakuan tersebut merupakan hasil survei yang baru-baru ini dilakukan terhadap remaja Amerika yang tinggal di Washington.
"Saat anak-anak mulai berangkat remaja dan keinginan seks datang, banyak orangtua merasa kehilangan anak-anaknya karena mereka sulit untuk dijauhkan dari budaya populer yang lebih mudah menjangkau mereka. Tetapi survei yang dilakukan petugas Kampanye Nasional untuk Pencegahan Kehamilan pada Remaja justru bertolak belakang," demikian aku petugas tersebut dalam laporan mereka. Walau para remaja mengakui pengaruh teman masih sedemikian kuat juga. Para gadis mengakui tekanan dari pasangan mereka masih kuat. Sedangkan remaja pria mengakui teman masih merupakan unsur dominan.
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan selama kampanye tersebut ada hasil mengejutkan, bahwa untuk urusan skes ini remaja masih banyak mendapat pengaruh dari orangtua sebesar 38 persen. Dan sebagian lagi sekitar 32 persen mengaku mendapat pengaruh dari teman untuk memutuskan segala sesuatu.
Sementara itu sekitar 50 persen orangtua justru menganggap remaja mereka mudah terpengaruh untuk melakukan hubungan seks pertama kali dari teman-temannya. Para remaja mengakui teman memang sangat berpengaruh dalam menentukan pola pikir dan sikap mereka. Sekitar 94 persen mengakui, pengaruh teman setidaknya berperan dalam dalam hal cara berpikir untuk melakukan hubungan seks
Tetapi tekanan pengaruh yang diterima remaja pria dan wanita berbeda. Sekitar 37 persen remaja wanita mengaku sering mendapat tekanan dari pasangannya. Sementara 45 persen remaja pria mendapat pengaruh dari teman-temannya, hanya sekitar 19 persen yang mengaku mendapat pengaruh dari pasangannya. "Karena itu hal yang paling diprioritaskan adalah melakukan penyuluhan terhadap remaja pria. Saat ini masih ada pendapat keliru bahwa kehamilan remaja hanya merupakan problem remaja wanita. Padahal kehamilan itu terjadi karena peran pasangannya," ujar Bill Albert salah satu petugas kampanye untuk mencegah kehamilan remaja. Berkat kampanye/penyuluhan yang sering dilakukan setiap tahun, maka angka kelahiran dari remaja wanita turun sampai 20 persen sejak tahun 1991. Berkat penyuluhan yang sering dilakukan petugas, didapat hasil cukup memuaskan bahwa remaja dan dewasa muda semakin takut berhubungan seks dengan alasan terkena AIDS atau penyakit menular seksual lainnya.
Survei juga menemukan suatu bukti baru yang cukup memuaskan. Bahwa sebagian besar remaja dan dewasa muda berpikir bahwa sebaiknya remaja menunda waktu hubungan seks pertama mereka hingga saat yang tepat. "Argumen seru yang terjadi di kalangan muda akan menjadi strategi yang efektif dengan disertai tindakan upaya pencegahan dan kampanye pemakaian alat kontrasepsi." Secara spesifik, sekitar 73% orang dewasa dan 56% remaja mengakui remaja sebaiknya tidak melakukan hubungan seks. Tetapi jika pun mereka sudah mengakuinya, harus mendapat akses dan aktif dilibatkan dalam program keluarga berencana. Sementara itu 50% orang dewasa dan 18% remaja mengatakan harus ada tindakan tegas bagi remaja yang nekat melakukan hubungan seks secara bebas. Sedangkan sekitar 12% orang dewasa dan 25% remaja terlihat lebih liberal. Mereka mengatakan remaja boleh melakukan kehendak mereka soal hubungan seks sepanjang akses untuk memperoleh layanan kesehatan juga terbuka lebar bagi mereka. Pendukung program keluarga berencana sebesar 24% remaja dan 28% orang dewasa, mengatakan optimistis berbagai penyuluhan bisa mencegah tindakan remaja untuk berbuat nekat.
Seksualitas Remaja Indonesia
Sebuah survei terbaru terhadap 8084 remaja laki-laki dan remaja putri usia 15-24 tahun di 20 kabupaten pada empat propinsi (Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Lampung) menemukan 46,2% remaja masih menganggap bahwa perempuan tidak akan hamil hanya dengan sekali melakukan hubungan seks. Kesalahan persepsi ini sebagian besar diyakini oleh remaja laki-laki (49,7%) dibandingkan pada remaja putri (42,3%) (LDFEUI & NFPCB, 1999a:92).
Dari survei yang sama juga didapatkan bahwa hanya 19,2% remaja yang menyadari peningkatan risiko untuk tertular PMS bila memiliki pasangan seksual lebih dari satu. 51% mengira bahwa mereka akan berisiko tertular HIV hanya bila berhubungan seks dengan pekerja seks komersial (PSK) (LDFEUI & NFPCB, 1999b:14).
Remaja seringkali merasa tidak nyaman atau tabu untuk membicarakan masalah seksualitas dan kesehatan reproduksinya. Akan tetapi karena faktor keingintahuannya mereka akan berusaha untuk mendapatkan informasi ini. Seringkali remaja merasa bahwa orang tuanya menolak membicarakan masalah seks sehingga mereka kemudian mencari alternatif sumber informasi lain seperti teman atau media massa.
Kebanyak orang tua memang tidak termotivasi untuk memberikan informasi mengenai seks dan kesehatan reproduksi kepada remaja sebab mereka takut hal itu justru akan meningkatkan terjadinya hubungan seks pra-nikah. Padahal, anak yang mendapatkan pendidikan seks dari orang tua atau sekolah cenderung berperilaku seks yang lebih baik daripada anak yang mendapatkannya dari orang lain (Hurlock, 1972 dikutip dari Iskandar, 1997).
Keengganan para orang tua untuk memberikan informasi kesehatan reproduksi dan seksualitas juga disebabkan oleh rasa rendah diri karena rendahnya pengetahuan mereka mengenai kesehatan reproduksi (pendidikan seks). Hasil pre-test materi dasar Reproduksi Sehat Anak dan Remaja (RSAR) di Jakarta Timur (perkotaan) dan Lembang (pedesaan) menunjukkan bahwa apabila orang tua merasa meiliki pengetahuan yang cukup mendalam tentang kesehatan reproduksi, mereka lebih yakin dan tidak merasa canggung untuk membicarakan topik yang berhubungan dengan masalah seks (Iskandar, 1997:3).
Hambatan utama adalah justru bagaimana mengatasi pandangan bahwa segala sesuatu yang berbau seks adalah tabu untuk dibicarakan oleh orang yang belum menikah (Iskandar, 1997:1).
Sikap Remaja terhadap Kesehatan Reproduksi
Responden survei remaja di empat propinsi yang dilakukan pada tahun 1998 memperlihatkan sikap yang sedikit berbeda dalam memandang hubungan seks di luar nikah. Ada 2,2% responden setuju apabila laki-laki berhubungan seks sebelum menikah. Angka ini menurun menjadi 1% bila ditanya sikap mereka terhadap perempuan yang berhubungan seks sebelum menikah. Jika hubungan seks dilakukan oleh dua orang yang saling mencintai, maka responden yang setuju menjadi 8,6%. Jika mereka berencana untuk menikah, responden yang setuju kembali bertambah menjadi 12,5% (LDFEUI & NFPCB, 1999a:96-97).
Sebuah studi yang dilakukan LDFEUI di 13 propinsi di Indonesia (Hatmadji dan Rochani, 1993) menemukan bahwa sebagian besar responden setuju bahwa pengetahuan mengenai kontrasepsi sudah harus dimiliki sebelum menikah.
Perilaku Seksual Remaja
Survei remaja di empat propinsi kembali melaporkan bahwa ada 2,9% remaja yang telah seksual aktif. Persentase remaja yang telah mempraktikkan seks pra-nikah terdiri dari 3,4% remaja putra dan 2,3% remaja putri (LDFEUI & NFPCB, 1999:101). Sebuah survei terhadap pelajar SMU di Manado, melaporkan persentase yang lebih tinggi, yaitu 20% pada remaja putra dan 6% pada remaja putri (Utomo, dkk., 1998).
Sebuah studi di Bali menemukan bahwa 4,4% remaja putri di perkotaan telah seksual aktif. Studi di Jawa Barat menemukan perbedaan antara remaja putri di perkotaan dan pedesaan yang telah seksual aktif yaitu berturut-turut 1,3% dan 1,4% (Kristanti & Depkes, 1996: Tabel 8b).
Sebuah studi kualitatif di perkotaan Banjarmasin dan pedesaan Mandiair melaporkan bahwa interval 8-10 tahun adalah rata-rata jarak antara usia pertama kali berhubungan seks dan usia pada saat menikah pada remaja putra, sedangkan pada remaja putri interval tersebut adalah 4-6 tahun (Saifuddin dkk, 1997:78).
Tentu saja angka-angka tersebut belum tentu menggambarkan kejadian yang sebenarnya, mengingat masalah seksualitas termasuk masalah sensitif sehingga tidak setiap orang bersedia mengungkapkan keadaan yang sebenarnya. Oleh karena itu, tidaklah mengejutkan apabila angka sebenarnya jauh lebih besar daripada yang dilaporkan.
Diketik ulang Oleh Supendi Ardiansyah STkes DHB
Daftar Pustaka
Iskandar, Meiwita B. "Hasil Uji Coba Modul Reproduksi Sehata Anak & Remaja untuk Orang Tua." Makalah pada Lokakarya Penyusunan Rencana Pengembangan Media, diselenggarakan oleh PKBI, Jakarta, 20-21 Mei 1997.
Kristanti, Ch. M dan Depkes. Status Kesehatan Remaja Propinsi Jawa Barat dan Bali: Laporan Penelitian 1995/1996. Jakarta: Depkes-Binkesmas-Binkesga, 1996.
LDFEUI dan NFPCB. Baseline Survey of Young Adult Reproductive Welfare in Indonesia 1998/1999 Book I. Jakarta: LDFEUI dan NFPCB, Juli 1999a.
Rosdiana, D. Pokok-Pokok Pikiran Pendidikan Seks untuk Remaja. Dalam N. Kollman (ed). Kesehatan Reproduksi Remaja. Jakarta: Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, 1998:9-20.

Propil kesehatan Ibu


Propil kesehatan Ibu di Indonesia
Lebih dari separuh (104,6 juta orang) dari total penduduk Indonesia (208,2 juta orang) adalah perempuan. Namun, kualitas hidup perempuan jauh tertinggal dibandingkan laki-laki. Masih sedikit sekali perempuan yang mendapat akses dan peluang untuk berpartisipasi optimal dalam proses pembangunan. Tidak heran bila jumlah perempuan yang menikmati hasil pembangunan lebih terbatas dibandingkan laki-laki. Hal itu terlihat dari semakin turunnya nilai Gender-related Development Index (GDI) Indonesia dari 0,651 atau peringkat ke 88 (HDR 1998) menjadi 0,664 atau peringkat ke 90 (HDR 2000) (GOI & UNICEF, 2000). GDI mengukur angka harapan hidup, angka melek huruf, angka partisipasi murid sekolah, dan pendapatan kotor per kapita (Gross Domestic Product/GDP) riil per kapita antara laki-laki dan perempuan. Di bidang pendidikan, terdapat perbedaan akses dan peluang antara laki-laki dan perempuan terhadap kesempatan memperoleh pendidikan. Menurut Susenas 1999, jumlah perempuan yang berusia 10 tahun ke atas yang buta huruf (14,1%) lebih besar daripada laki-laki pada usia yang sama (6,3%) (GOI & UNICEF, 2000).
Kematian ibu adalah kematian perempuan selama masa kehamilan atau dalam 42 hari setelah persalinan dari setiap penyebab yang berhubungan dengan atau diperburuk oleh kehamilan atau penanganannya tetapi bukan karena kecelakaan (WHO-SEARO, 1998). Angka Kematian Ibu (AKI) menurut survei demografi kesehatan Indonesia (SDKI) 1994 masih cukup tinggi, yaitu 390 per 100.000 kelahiran (GOI & UNICEF, 2000). Penyebab kematian ibu terbesar (58,1%) adalah perdarahan dan eklampsia. Kedua sebab itu sebenarnya dapat dicegah dengan pemeriksaan kehamilan (antenatal care/ANC) yang memadai. Walaupun proporsi perempuan usia 15-49 tahun yang melakukan ANC minimal 1 kali telah mencapai lebih dari 80%, tetapi menurut SDKI 1994, hanya 43,2% yang persalinannya ditolong oleh tenaga kesehatan. Persalinan oleh tenaga kesehatan menurut SDKI 1997, masih sangat rendah, di mana sebesar 54% persalinan masih ditolong oleh dukun bayi (GOI & UNICEF, 2000).
Usia kehamilan pertama ikut berkontribusi kepada kematian ibu di Indonesia. Data SKIA 2000 menunjukkan umur median kehamilan pertama di Indonesia adalah 18 tahun. Sebanyak 46% perempuan mengalami kehamilan pertama di bawah usia 20 tahun, di desa lebih tinggi (51%) daripada di kota (37%) (GOI & UNICEF, 2000).
SDKI 1997 melaporkan 57,4% Pasangan Usia Subur (PUS) menggunakan alat kontrasepsi dan sebanyak 9,21% PUS sebenarnya tidak ingin mempunyai anak atau menunda kehamilannya, tetapi tidak memakai kontrasepsi (unmet need). Krisis ekonomi yang terjadi sejak pertengahan 1997 menjadi sebab utama menurunnya daya beli PUS terhadap alat dan pelayanan kontrasepsi (GOI & UNICEF, 2000).
Upaya-upaya dalam meningkatkan kesehatan Ibu di Indonesia

Berdasarkan UU No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan, Kesehatan ibu dan anak yang selanjutnya disingkat KIA adalah pelayanan kesehatan ibu dan anak yang meliputi pelayanan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, keluarga berencana, kesehatan reproduksi, pemeriksaan bayi, anak balita dan anak prasekolah sehat. Kesehatan ibu dan anak (KIA) di Tanah Air selalu saja menjadi masalah pelik yang tak kunjung membaik keadaannya. Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak tersebut diyakini memerlukan kondisi sosial politik, hukum dan budaya yang kondusif. Untuk itu, penggunaan instrumen hak azasi manusia dianggap perlu untuk menjamin ketersediaan dukungan itu. Situasi kesehatan ibu dan bayi baru lahir di Indonesia sama sekali belum bisa dikatakan menggembirakan. Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2002/2003 angka kematian ibu di Indonesia masih berada pada angka 307 per 100 ribu kelahiran. Tingginya angka kematian ibu dan bayi sebesar 307 per 100 ribu kelahiran hidup, menjadi salah satu indikatornya buruknya pelayanan kesehatan ibu dan anak. Kendati berbagai upaya perbaikan serta penanganan telah dilakukan, namun disadari masih diperlukan berbagai dukungan.
Angka Kematian Ibu (AKI) menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 1994 masih cukup tinggi, yaitu 390 per 100.000 kelahiran. Penyebab kematian ibu terbesar (58,1%) adalah perdarahan dan eklampsia. Kedua sebab itu sebenarnya dapat dicegah dengan pemeriksaan kehamilan (antenatal care/ANC) yang memadai. Walaupun proporsi perempuan usia 15-49 tahun yang melakukan ANC minimal satu kali telah mencapai lebih dari 80%, tetapi menurut SDKI 1994, hanya 43,2% yang persalinannya ditolong oleh tenaga kesehatan.
Sampai saat ini, kematian ibu masih merupakan salah satu masalah prioritas di bidang kesehatan ibu dan anak di Indonesia. Setiap satu jam dua orang ibu di Indonesia meninggal saat melahirkan karena berbagai penyebab. Jika seorang ibu meninggal, maka anak-anak yang ditinggalkannya mempunyai kemungkinan tiga hingga sepuluh kali lebih besar untuk meninggal dalam waktu 2 tahun bila dibandingkan dengan mereka yang masih mempunyai kedua orang tua. Hal ini tentu hanya salah satu akibat yang sangat memprihatinkan. Pengalaman secara global menunjukkan bahwa kematian ibu dapat dicegah dan berbagai penelitian dan strategi untuk mengurangi kematian ibu telah dihasilkan.
Strategi Menyelamatkan Persalinan Sehat (MPS) telah dimulai pada 2000 dengan bantuan negara donor sedangkan buku KIA telah diperkenalkan sejak tahun 1994 dengan bantuan Badan Kerjasama Internasional Jepang (JICA). Tulisan ini mencoba untuk mengulas secara singkat kontribusi penting MPS dan buku KIA bagi tim kesehatan sendiri dan pemerintah, di samping bagi masyarakat yang merupakan tujuan utama upaya ini. Strategi Menyelamatkan Persalinan Sehat (Making Pregnancy Safer) adalah sebuah inisiatif yang dicanangkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2000. Ini merupakan komitmen untuk mengurangi beban global akibat kematian, kesakitan, dan kecacatan yang tidak perlu terjadi, yang berhubungan dengan komplikasi kehamilan, persalinan, dan selama nifas. MPS mengharapkan agar ibu hamil, melahirkan dan dalam masa setelah persalinan (post natal) mempunyai akses terhadap tenaga kesehatan yang terlatih, yaitu profesi kesehatan yang terakreditasi - seperti bidan, dokter, atau perawat – yang telah menempuh pendidikan dan dilatih untuk menguasai ketrampilan-ketrampilan yang dibutuhkan dalam mengelola kehamilan normal (tanpa komplikasi), persalinan dan periode segera setelah melahirkan dan dalam pengidentifikasian, pengelolaan dan rujukan atas komplikasi yang diderita oleh ibu dan anak.
Pernyataan bersama antara WHO, ICM, dan FIGO (2004) menegaskan pentingnya peran tenaga kesehatan yang terlatih tersebut, yaitu bahwa tenaga kesehatan yang terlatih merupakan pusat keberlangsungan perawatan. Pada tingkat perawatan kesehatan primer, mereka akan bekerja dengan penyedia perawatan kesehatan yang lain, seperti dukun bayi dan pekerja sosial. Mereka juga harus mempunyai hubungan kerja yang kuat dengan pemberi perawatan kesehatan di tingkat sekunder dan tersier dalam sistem perawatan kesehatan. Strategi MPS meliputi tiga pesan kunci, yakni setiap persalinan harus ditolong tenaga medis, setiap komplikasi persalinan harus ditangani tenaga dekuat (dokter ahli) dan setiap wanita usia subur harus mempunyai akses pencegahan kehamilan dan penanganan komplikasi keguguran. Pada pelaksanaannya, strategi ini terbentur pada keterbatasan jumlah tenaga yang berkualitas dan berbagai kendala lainnya.
Apabila Strategi Menyelamatkan Persalinan Sehat saat ini lebih berfokus pada upaya ketersediaan tenaga kesehatan yang dapat dikatakan berkualitas, maka buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) lebih ke arah membantu masyarakat dalam meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang kesehatan ibu dan anak, sehingga diharapkan dapat meningkatkan partisipasi mereka dalam mengontrol kesehatan ibu, selain sebagai buku catatan kesehatan ibu dan anak, alat monitor kesehatan oleh tenaga kesehatan dan alat komunikasi antara tenaga kesehatan dengan pasien. Buku ini selalu disimpan dan dibawa oleh ibu kemanapun ia memeriksakan kesehatannya ataupun kesehatan anaknya.
Karena di Jepang, buku KIA sudah digunakan sejak tahun 1948 dan mampu menurunkan secara signifikan Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Ibu(AKI). Buku ini dapat diperoleh secara gratis melalui kantor pemerintah di kota atau desa tempat ibu hamil tinggal setelah menginformasikan kehamilannya melalui surat keterangan dari dokter. Selama pemeriksaan antenatal, ibu hamil diharapkan selalu membawa buku KIA tersebut. Perawat atau bidan akan mendokumentasikan hasil pemeriksaan fisik ibu yang antara lain meliputi tekanan darah, berat badan, pemeriksaan air kemih (urine), tinggi fundus uteri, dan lingkar perut (abdomen). Setelah pemeriksaan lanjutan dan penjelasan dari dokter kebidanan, perawat atau bidan akan mendiskusikan beberapa topik penting yang berkaitan dengan kehamilan dengan ibu dan pasangannya. Informasi ini diberikan secara individual dan didukung dengan leaflet-leaflet yang telah disediakan oleh pihak rumah sakit. Program kelas prenatal dan latihan-latihan selama hamil (maternity exercise) ditawarkan pada ibu hamil untuk diikuti.
Di Indonesia, meskipun buku KIA belum diterapkan di seluruh propinsi namun sambutan yang diterima sangat positif. Menurut Direktur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Prof Dr dr Azrul Azwar MPH, sampai dengan Agustus, 2003, buku ini telah digunakan di 140 kabupaten/kota di 24 provinsi, meskipun belum pada semua fasilitas kesehatan. Sementara itu, lebih dari 50.000 kader kesehatan dan 10.000 bidan telah dilatih mengenai buku KIA. Tak kurang dari lima juta buku KIA dicetak dan dibagikan. Sampai saat ini pelatihan terhadap tenaga kesehatan tentang buku KIA yang diselenggarakan oleh JICA masih terus berlangsung.
Kemudian tidak ada intervensi tunggal yang mampu menyelesaikan masalah kematian ibu. Oleh karena itu, upaya untuk mengatasi hal ini baik melalui penggunaan Buku KIA maupun Strategi Menyelamatkan Persalinan Sehat, meskipun dalam pelaksanaannya masih menemui beberapa kendala, perlu untuk didukung. Kesehatan ibu adalah hal yang vital bagi keberlangsungan hidup manusia dan hal ini menjadi tanggung jawab kita bersama untuk memelihara dan Menyadari pentingnya peran ini, maka tenaga kesehatan di Indonesia perlu untuk segera mengaplikasikan langkah-langkah yang mendukung terwujudnya tenaga kesehatan yang berkualitas. Hal-hal dasar yang harus dilakukan adalah kemauan dan kemampuan untuk memberikan perawatan yang terbaik bagi pasien. Maraknya kasus dugaan malpraktek belakangan ini, khususnya di bidang perawatan ibu dan anak, menjadi peringatan dan sekaligus sebagai dorongan untuk lebih memperbaiki kualitas pelayanan. Melaksanakan tugas dengan berpegang pada janji profesi dan tekad untuk selalu meningkatkan kualitas diri perlu untuk selalu dipelihara. Kerja sama yang melibatkan segenap tim pelayanan kesehatan perlu dieratkan dengan kejelasan dalam wewenang dan fungsinya. Pemahaman terhadap keanekaragaman suku dan budaya di Indonesia juga harus dikuasai agar dapat memberikan pelayanan yang lintas budaya.

Ditulis ulang Oleh SuPendi Ardiansyah STIKes ….

Referensi:
1. A joint statement by WHO, ICM, and FIGO. Making Pregnancy Safer: the critical role of the skilled attendant (05.11.04). Website URL http://www.who.int/reproductive-health/publications/2004/skilled_attendant.pdf
2. Buku KIA untuk Turunkan Kematian Ibu dan Bayi (05.11.04). Website URL http://www.kompas.com/kompas-cetak/0308/08/iptek/481686.htm
3. Dua Ibu Melahirkan Meninggal Setiap Jam di Indonesia (05.11.04) Website URL http://situs.kesrepro.info/kia/mei/2004/kia05.htm
4. GOI & UNICEF. Laporan Nasional Tindak Lanjut Konferensi Tingkat Tinggi Anak (Draft). Desember 2000.
5. WHO-SEARO. Regional Health Report 1998: Focus on Women. New Delhi: WHO-SEARO, 1998
6. Keselamatan Ibu: Keberhasilan dan Tantangan. Website URL http://www.path.org/files/Indonesian_16-special.pdf
7. Mother’s & Children’s Health & Welfare Association, 2003, Maternal and Child Health Statistics of Japan. Tokyo, Toshihide E
8. Turunkan AKI melalui pelayanan kebidanan (05.11.04).URL http://www.kompas.com/kom